Perilaku buruk dari pergaulan di sekolah?

December 4, 2011 No Comments »
Perilaku buruk dari pergaulan di sekolah?

Tentang perilaku buruk yang didapat dari sekolah dapat terjadi karena anak tidak hanya belajar dari sekolah, tapi juga teman-temannya. Masing-masing anak membawa perilaku bawaan dari rumah. Ada beberapa perilaku yang positif, tapi tidak sedikit pula yang negatif, tergantung pola asuh orangtuanya masing-masing di rumah. Anak yang terbiasa dengan pola asuh demokratis dan kaya nilai-nilai moral, akan terbiasa bersikap sopan layaknya di rumah, dan menularkan perilaku baiknya ini kepada anak-anak lain.

Celakanya, anak dengan pola asuh salah pun, bisa ikut-ikutan membawa dan menularkan perilaku buruknya kepada anak-anak lain. Anak yang terbiasa berkata kasar karena tak pernah dilarang orangtua, misal, akan membawa kata-kata itu ke sekolah. Sebagai peniru ulung, anak pun senang meniru dan mempraktikkan kosakata barunya. Perkara itu hal yang tak patut diucapkan, menjadi urusan lain. Hal yang sama saat anak mendapat perilaku baik, perilaku buruk yang diperolehnya ini pun akan dicobanya di rumah.

Lantas, bagaimana sebaiknya orangtua bersikap?  saran pakar psikologis tak usahlah meresponsnya secara berlebihan. Karena semakin orangtua memberikan perhatian, semakin kuat perilaku itu akan diulangi. Jadi, santai saja menghadapinya, seraya bertanya, “Dari mana kamu mendapatkan kata-kata itu?” ketika si prasekolah berkata kasar/tak sopan. Kemudian jelaskan, kata-kata itu kasar dan tak pantas diucapkan. Orang yang mendengarnya akan tersinggung atau marah.

Demikian pula saat anak mencoba keterampilan meludahnya. Cobalah bersikap wajar, seraya mengatakan perbuatan itu menjijikkan, dan tak boleh meludah tanpa alasan tepat. Namun jika anak terus-menerus melakukannya, cobalah berikan alternatif. Anak boleh meludah hanya di tempat-tempat tertentu, seperti di kamar mandi, dan tak boleh dilakukan di tempat lain. Biarkan dia meludah sepuasnya. Lambat laun dia akan berhenti sendiri.

Yang jelas, hindari memarahi, menegur, atau melarang dengan keras, karena hanya akan membuat perilaku anak semakin menjadi-jadi. Jika perilakunya dirasa mengganggu seperti loncat-loncat di atas kursi, alihkan saja dengan aktivitas lain, entah bermain di luar ruangan atau aktivitas fisik lainnya.

Di usia ini, keterampilan berbahasa anak sudah berkembang, demikian juga kemampuan kognisinya. Orangtua bisa memberikan benteng agar anak dapat memilah, mana perilaku yang patut dicontoh dan mana yang tidak. Anak sudah harus bisa memilahnya. Tak ada salahnya juga jika anak ikut menegur temannya yang berperilaku buruk itu. Katakan konsekuensi yang bisa didapat jika temannya tetap melakukan hal itu. Misal, jika tetap senang meludah, jangan heran jika teman-temannya di sekolah pergi menjauh. Dengan filter tersebut, orangtua tidak takut anaknya terbawa arus negatif lingkungan.

KERJA SAMA ORANGTUA DAN GURU

Penting dipahami, anak bisa mendapatkan perilaku buruk dari mana pun, termasuk dari teman-temannya di sekolah. Perilaku ini bisa hilang dalam beberapa pekan, lalu digantikan dengan perilaku yang baru. Namun, beberapa perilaku bisa menetap apabila tak ada usaha dari orangtua dan guru untuk melakukan koreksi. Itulah mengapa, dalam kasus ini, kerja sama antara orangtua dan guru penting dilakukan.

Ketahuilah, perilaku buruk ibarat virus, yang tetap akan menularkan penyakit jika penyebabnya tak ditangani. Mungkin saja orangtua sudah sekuat tenaga memberikan rambu-rambu di rumah, termasuk menegur berkali-kali atas sikap anak yang gemar meludah. Namun boleh jadi usaha itu akan berakhir sia-sia, karena anak lagi-lagi mendapati keasyikan bersama temannya melakukan hal itu di sekolah.

Jadi, jangan segan untuk “curhat” dengan guru dalam menyikapi perilaku buruk anak. Dengan begitu, guru bisa melakukan koreksi secepatnya. Bisa saja guru menyampaikannya saat bermain di kelas. Guru juga harus responsif atas perilaku anak didiknya. Jika didapati ada murid yang melakukan perbuatan buruk, segeralah tegur dan beri penjelasan. Jangan kapok untuk mengulangi teguran, karena anak prasekolah harus diingatkan berkali-kali.

Orangtua juga bisa bekerja sama dengan orangtua anak lain atau pengasuh yang menunggui anak di sekolah. Orangtua bisa memulai mengatakan permasalahan yang dialami anaknya, “Akhir-akhir ini anak saya gemar meludah, bagaimana dengan anak Ibu?” Jika jawabannya ya, orangtua bisa mendiskusikan dan mencari solusi terbaik. Namun ingat, jangan sekali-kali menuduh anak lain sebagai biang keladi perbuatan buruk tersebut. Bagaimanapun, perbuatan buruk adalah permasalahan bersama, bukan tanggung jawab salah satu pihak.

Leave A Response

 

Predefined Skins

BG Color

Nav Menu Font

Titles font

Content font