Kebiasaan makan makanan cair/blender di usia batita yang tidak ditangani dengan segera bisa saja terus berlanjut hingga usia anak lebih besar. Jika demikian tentu akan berdampak buruk baginya secara psikologis, seperti :
- Ia jadi sulit mencoba sesuatu yang baru
- Kurang dapat menyesuaikan diri.
- Ada ketergantungan pada orang tua karena umumnya orang tua yang selama ini menyiapkan anak makanan seperti itu
- Dari segi sosialisasi anak akan menemui kendala. Misal, jadi bahan tertawaan teman-temannya karena masih makan makanan bayi sekaligus secara tak langsung berdampak buruk bagi emosi dan mentalnya sehingga mengakibatkan ia kurang percaya diri dan prestasi sekolah tidak maksimal.
Selain itu makanan cair tersebut juga berdampak buruk bagi kesehatan anak, yaitu :
- Gigi tidak terlatih menguyah makanan, akibatnya kemunculan gigi tetap bisa terhambat
- Bentuk dan kekuatan rahang tidak berkembang baik, karena dengan mangunyah makanan rahang ikut bergerak sehingga merangsang pertumbuhannya secara optimal.
- Komposisi makanan yang diperoleh anak terbatas. Jumlah komposisi makanan lembek lebih sedikit dibanding makanan padat dan jika diblender pun kandungan seratnya jadi lebih sedikit.
- Usus jadi malas bekerja atatu tidak terlatih dengan baik, sehingga timbul masalah penyerapan zat-zat makanan maupun dalam hal buang air besar (sulit BAB).
Solusi agar batita mau menerima makanan padat
- Kenalkan tahapan makanan sesuai usia perkembangan si kecil. Usia 6-8 bulan : bayi harus belajar makan bubur. Usia 9-12 bulan : ia belajar makan masakan yang ditim. Usia 1 tahun, beri ia makanan agak padat seperti nasi lembek atau kentang lumat dan seterunya hingga mencapai tekstur yang padat.
- Kenalkan berbagai variasi bahan dan olahan makanan padat. Bila nasi ditolak, kan ada kentang. Kalau kentang juga ditolak, masih ada singkong parut atau roti. Selanjutnya mintalah anak untuk mencicipi menu hari itu sehingga dapat diketahui apa yang cenderung disukai anak. Jangan takut untuk mencoba mengenalkan lagi bahan yang pernah ditolak, mungkin dengan cita rasa yang berbeda. Pokonya coba lagi, lagi, dan lagi.
- Sikapi penolakan dengan bijak. Siasati penolakan anak dengan cara pertama tidak melakukan pemaksaan karena hal ini justru membuat anak akan memberontak. Kedua, tanyakan alasan dan pahami mengapa ia menolak. Ketiga, makanlah bersama anak karena anak senang meniru. Terakhir, ajak anak untuk terlibat dalam kegiatan mengolah makanannya.







